
Salah satu sebab mengapa negeri ini tertimpa krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah tidak tumbuh suburnya budaya atau tradisi enterpreneurship di masyarakat kita. Profesi-profesi yang menghantarkan banyak orang menjadi enterpreneur tidak banyak digemari anak bangsa ini. Banyak orang tua kita bangga manakala anaknya sudah lulus dari perguruan tinggi kemudian bekerja di suatu perusahaan atau anaknya menjadi pegawai negeri di instansi pemerintah. Setiap lebaran, natalan, atau liburan-liburan panjang sering saya melihat secara langsung betapa bangganya anak-anak negeri ini yang pulang kampung dengan mobil inventaris kantor, seragam kantor, dan simbol-simbol kekaryawanannya di kota.
Sosiologi masyarakat kita masih sangat membanggakan profesi ambtenaar atau karyawan daripada profesi salesman, misalnya. Banyak saya jumpai orang tua sama sekali tidak bangga, bahkan turut prihatin, anaknya yang sudah lulus perguruan tinggi itu hanya bekerja sebagai tenaga penjual, salesman, atau merintis usaha di kampungnya secara kecil-kecilan. Mereka sering berkeluh kesah, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya menjadi salesman, penjual beras, atau penjual ikan asin di kampung? Sekolah tinggi-tinggi koq tidak jadi pegawai negeri? Sekolah lama-lama, menghabiskan banyak uang, hanya jadi pedagang air minum? "Kalau begitu mah nggak usah sekolah juga bisa?", kata mereka.
Masyarakat kita masih sangat rendah apresiasinya terhadap profesi penjual. Padahal tidak bisa dipungkiri, hampir semua orang hebat semacam Bill Gates, si raja komputer dunia, atau Bob Sadino, pengusaha nasional luar biasa hebatnya, yang menjadi luar biasa tanpa memulai dari menjual. Bob Sadino memulai kehebatannya dengan menjadi pedagang keliling telur yang biasa diambilnya dari peternak. Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, kini sudah hampir semua kota besar di Indonesia, bahkan Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam menyebar outletnya. Seorang Puspo Wardoyo tidak akan sehebat sekarang manakala dia tidak memulai menjadi pedagang kaki lima. Hanya dengan menjadi pedagang kaki lima di pinggiran emper toko di Jl. Gajah Mada, Medan, dengan modal awal yang tidak seberapa, maka Puspo Wardoyo menjadi enterpreneur yang tangguh.
Krisis yang melanda negeri ini tidak akan separah sekarang manakala anak negeri ini dari awal membanggakan profesi pedagang. Pengusaha-pengusaha yang tangguh perlu banyak dilahirkan oleh negeri ini manakala ke depan kita ingin tetap sebagai bangsa yang memiliki jati diri dan kemandirian.
Kita selamanya tidak akan menjadi bangsa yang mandiri kalau anak negeri ini masih membangggakan profesinya sebagai kuli atau buruh. Bila kebanggaan menjadi pegawai masih subur di masyarakat dan para lulusan SMU dan atau perguruan tinggi masih mau menenteng ijazahnya untuk melamar kerja, maka selamanya kita sulit bangkit dari keterpurukan ini dan kita selamanya tetap sebagai bangsa konsumen.
Kurikulum perguruan tinggi harus diarahkan supaya output-nya mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menciptakan peluang berusaha dan bukannya malah menciptakan penganggur-penganggur terdidik yang hanya akan menjadi beban negara dan masyarakat.
Jangan sampai negeri ini hanya terus menjadi bangsa kuli, terjajah secara makro ekonomi dan budayanya serta tidak memiliki kemandirian hanya karena regulasi dan sosiologi masyarakat yang tidak lagi mengikuti selera zamannya. Kemampuan menciptakan peluang usaha mesti dilatih dan diupayakan terus sehingga kita benar-benar bangkit dan menjadi produsen-produsen produk yang akan kita banggakan menjadi penyumbang devisa dan penyumbang kemandirian bangsa ini. Bila ini tidak tercapai maka negeri ini hanya menjadi sampah dari produk-produk luar negeri yang membanjirinya. Selamanya ......
Keberanian untuk mengubah paradigma hidup dengan keuntungan dari transaksi penjualan dan meninggalkan paradigma lama yang bangga menjadi pegawai kini zamannya sangat kondusif. Era reformasi disusul kemudian dengan regulasi otonomi daerah diharapkan bisa menjadi pemicu tumbuhnya banyak pengusaha muda. Pemerintah diharapkan menciptakan regulasi dan iklim usaha yang merespons tumbuh dan berkembangnya enterpreneur-enterpreneur muda. Merekalah yang akan menghantarkan bangsa ini dengan kemandirian yang berkepribadian enterpreneur.
(Condensed from Kiat Sukses Memulai Bisnis - A. Khoerussalim Ikh.)
Sosiologi masyarakat kita masih sangat membanggakan profesi ambtenaar atau karyawan daripada profesi salesman, misalnya. Banyak saya jumpai orang tua sama sekali tidak bangga, bahkan turut prihatin, anaknya yang sudah lulus perguruan tinggi itu hanya bekerja sebagai tenaga penjual, salesman, atau merintis usaha di kampungnya secara kecil-kecilan. Mereka sering berkeluh kesah, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya menjadi salesman, penjual beras, atau penjual ikan asin di kampung? Sekolah tinggi-tinggi koq tidak jadi pegawai negeri? Sekolah lama-lama, menghabiskan banyak uang, hanya jadi pedagang air minum? "Kalau begitu mah nggak usah sekolah juga bisa?", kata mereka.
Masyarakat kita masih sangat rendah apresiasinya terhadap profesi penjual. Padahal tidak bisa dipungkiri, hampir semua orang hebat semacam Bill Gates, si raja komputer dunia, atau Bob Sadino, pengusaha nasional luar biasa hebatnya, yang menjadi luar biasa tanpa memulai dari menjual. Bob Sadino memulai kehebatannya dengan menjadi pedagang keliling telur yang biasa diambilnya dari peternak. Puspo Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, kini sudah hampir semua kota besar di Indonesia, bahkan Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam menyebar outletnya. Seorang Puspo Wardoyo tidak akan sehebat sekarang manakala dia tidak memulai menjadi pedagang kaki lima. Hanya dengan menjadi pedagang kaki lima di pinggiran emper toko di Jl. Gajah Mada, Medan, dengan modal awal yang tidak seberapa, maka Puspo Wardoyo menjadi enterpreneur yang tangguh.
Krisis yang melanda negeri ini tidak akan separah sekarang manakala anak negeri ini dari awal membanggakan profesi pedagang. Pengusaha-pengusaha yang tangguh perlu banyak dilahirkan oleh negeri ini manakala ke depan kita ingin tetap sebagai bangsa yang memiliki jati diri dan kemandirian.
Kita selamanya tidak akan menjadi bangsa yang mandiri kalau anak negeri ini masih membangggakan profesinya sebagai kuli atau buruh. Bila kebanggaan menjadi pegawai masih subur di masyarakat dan para lulusan SMU dan atau perguruan tinggi masih mau menenteng ijazahnya untuk melamar kerja, maka selamanya kita sulit bangkit dari keterpurukan ini dan kita selamanya tetap sebagai bangsa konsumen.
Kurikulum perguruan tinggi harus diarahkan supaya output-nya mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menciptakan peluang berusaha dan bukannya malah menciptakan penganggur-penganggur terdidik yang hanya akan menjadi beban negara dan masyarakat.
Jangan sampai negeri ini hanya terus menjadi bangsa kuli, terjajah secara makro ekonomi dan budayanya serta tidak memiliki kemandirian hanya karena regulasi dan sosiologi masyarakat yang tidak lagi mengikuti selera zamannya. Kemampuan menciptakan peluang usaha mesti dilatih dan diupayakan terus sehingga kita benar-benar bangkit dan menjadi produsen-produsen produk yang akan kita banggakan menjadi penyumbang devisa dan penyumbang kemandirian bangsa ini. Bila ini tidak tercapai maka negeri ini hanya menjadi sampah dari produk-produk luar negeri yang membanjirinya. Selamanya ......
Keberanian untuk mengubah paradigma hidup dengan keuntungan dari transaksi penjualan dan meninggalkan paradigma lama yang bangga menjadi pegawai kini zamannya sangat kondusif. Era reformasi disusul kemudian dengan regulasi otonomi daerah diharapkan bisa menjadi pemicu tumbuhnya banyak pengusaha muda. Pemerintah diharapkan menciptakan regulasi dan iklim usaha yang merespons tumbuh dan berkembangnya enterpreneur-enterpreneur muda. Merekalah yang akan menghantarkan bangsa ini dengan kemandirian yang berkepribadian enterpreneur.
(Condensed from Kiat Sukses Memulai Bisnis - A. Khoerussalim Ikh.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar